Hari ini75
Kemarin99
Minggu kemarin701
Bulan kemarin3.711
Yogyakarta – Penulis-penulis muda dalam membuat cerita pendek atau novel sekarang ini patut dibanggakan. Tapi karena banyaknya informasi yang mudah diserap, maka tidak ada perenungan yang dalam. “Cerita itu jadi kering,” kata novelis Ahmad Tohari yang ditemui Jogjatrip, sebelum tampil di bedah buku cerita pendek Mata Yang Enak Dipandang karya Ahmad Tohari, di Kampus UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Yogyakarta, Rabu (22/1) malam. Cerpen itu dibahas oleh Ali Imron Al-Ma’ruf dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Untuk mengatasi hal itu, kata Ahmad Tohari, perlu mengatur waktu dan perenungan. Sekarang ini penulis-penulis muda sangat mudah berinteraksi dengan penulis dari luar negeri karena didukung peralatan modern yang memadai. “Jangan takut dikritik. Tulis saja yang dimaui. Tulisan pertama biasanya mencari bentuk, tapi setelah itu akan menemukan jati diri,” ucap novelis Ronggeng Dukuh Paruk.
Mata Yang Enak Dipandang berisi 15 cerpen, semua ditulis dalam rentang tahun 1990 – 2012 dan sebagian besar sudah dimuat di media masa. Tema cerpen itu kebanyakan sosial, relegius, dan percintaan. Tulisan pria berusia 66 tahun ini banyak membela orang-orang miskin. “Tema yang tidak populer, sastra yang tidak wangi, dan sastra yang terpinggirkan,” papar Ahmad Tohari yang pernah mendapat penghargaan sastra lewat novel Kubah.
Menurut Ali Imron, salah satu daya tarik karya Ahmad Tohari adalah kepedulian masalah sosial dan budaya daerah dengan kearifan lokalnya dan pembelaan terhadap wong cilik. Mata Yang Enak Dipandang mengangkat tema wong cilik dengan segala kemiskinan dan kesedihannya. “Kita bisa belajar banyak dari orang papa dan tak berdaya,” kata Imron.
Dalam Mata Yang Enak Dipandang batas antara fakta dan fiksi menjadi kabur. Akan tetapi kedalaman cerita mudah dirasakan. Cerita yang diungkapkan dalam buku ini lebih banyak realitas dan budaya subkultur, masyarakat desa yang agraris dengan setting desa sekitar Banyumas. Tohari tidak saja berhasil mengajak ‘berwisata’ kepada pembaca buku ini tetapi juga sukses menampakkan jatidirinya. ”Tohari adalah pengarang realis yang tak pernah menulis dari sesuatu yang hampa. Sebagai pengamat sosial budaya, Tohari jeli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya,’ ucap Imron. *** (Teguh R Asmara)
Sumber: http://jogjatrip.com