Hari ini101
Kemarin104
Minggu kemarin902
Bulan kemarin2.416
Oleh: Atep Kurnia
Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936) lahir pada 8 Februari 1857 di Tholen, Oosterhout, Belanda. Ia termasuk orientalis Belanda terkemuka. Kajiannya mengenai ibadah haji ke Mekah, Het Mekkaansche Feest, ia selesaikan pada 1880 di Universitas Leiden yang dimasukinya sejak 1875. Hindia Belanda mulai dijejaknya pada 1889.
Dialah pendukung ide pemisahan politik dengan agama. Selain itu, ialah peletak dasar politik asosiasi, ia mengusulkan agar bangsa Indonesia bebas dan berpendidikan. Karena dengan pendidikan yang universal dan netral, kaum Muslimin akan dapat dijauhkan dari Islam (Kawan Dalam Pertikaian, Karel Steenbrink, 1995: 120-122).
Namun, ada hal menarik yang mungkin agak luput kita perhatikan dari penasihat urusan bahasa-bahasa Timur dan hukum Islam sejak 15 Maret 1891 itu. Ternyata, ia mempunyai minat terhadap kebudayaan Sunda. Itu bermula ketika ia memohon kepada Gubernur Jenderal C. Pijnacker Hordijk untuk meneliti kehidupan agama dan cerita rakyat di Pulau Jawa. Permohonannya dikabulkan. Menyusul terbitnya besluit Raja Belanda pada 22 Juli 1889.
Sebelum besluit itu keluar, pada 15 Juli 1889, bersama dengan Haji Hasan Mustapa (penghulu besar Bandung, 1893-1916) yang dikenalnya di Mekah pada 1885, Snouck berkeliling Pulau Jawa untuk meneliti aspek-aspek kehidupan Islam dan cerita rakyat. Pertama-tama mereka pergi ke Sukabumi, lalu Bandung, Garut, Calincing, Cirebon, dan seterusnya (Snouck Hurgronje dan Islam, 1989: 205-206).
Dari perjalanan itu, Snouck di antaranya mengumpulkan dongeng-dongeng Si Kabayan. Peninggalannya dapat dilihat di perpustakaan Universitas Leiden. Edi S. Ekadjati, dkk. (Naskah Sunda, 1988) pernah mendatanya. Perinciannya, Judul Naskah Kumpulan Cerita (nomor kode naskah LOr.7667), Dongeng Kabayan (LOr. 7676), Dongeng-Dongeng Kabayan (LOr. 7691), dan Cerita Kabayan (LOr. 7694).
Atas hasil kerja Snouck, Paul Hambruch memasukkan dongeng-dongeng Si Kabayan ke dalam bukunya Malaiische Märchen: Aus Madagaskar und Insulinde, yang terbit 1927. Selain Hambruch, istri fisikawan Belanda yang turut menemukan unsur kimia Hafnium (Hf) Dirk Coster (1889-1950), Lina Maria-Coster Wijsman, memanfaatkan data itu menjadi disertasi doktoralnya.
Wijsman memberi judul disertasinya "Uilespiegel verhalen in Indonesie: in het Bizonder in de Soendalande". Edisi Indonesianya diterjemahkan oleh Koesalah Soebagyo Toer menjadi "Si Kabayan: Cerita Lucu di Indonesia Terutama di Tanah Sunda" (Terbitan PT Pustaka Jaya bekerja sama dengan lembaga ilmiah Belanda, Koninlijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde [KITLV-Jakarta], Desember 2008).
Disertasi yang berhasil dipertahankan di Universitas Leiden, Belanda pada Jumat, pukul 16.00, 7 Juni 1929, itu mencatat dan meringkas 134 dongeng Si Kabayan yang dikumpulkan Snouck. Ditambah dari R.A. Kern, dan R. Satjadibrata. Sementara itu, teks utuh berbahasa Sunda yang berisi dongeng-dongeng Si Kabayan hanya disajikan 80 dongeng, seperti yang dapat kita baca dari bab kedua buku tersebut.
Bagaimana Si Kabayan di mata Snouck? Jawabannya dapat ditelusuri dari disertasi Lina Maria. Dalam disertasi itu ada pendapat Snouck yang berkaitan dengan Si Kabayan, terutama dari bukunya mengenai Aceh, De Atjehers (1893).
Menurut Snouck, di mata orang Sunda, Si Kabayan hampir selalu diasosiasikan dengan cerita lucu (hal. 23). Dongeng-dongeng tokoh lucu ini seringkali diceritakan kembali di antara orang Sunda, baik oleh orang tua maupun kaum muda. Tidak hanya sebatas dongengnya belaka, tetapi juga sindiran dan kutipan dari Si Kabayan pun sering dipercakapkan orang Sunda (hal. 22).
Tetapi yang dahsyat adalah makam Si Kabayan. Menurut Snouck, makam Si Kabayan ada di Pandeglang dan tempat-tempat lainnya di Banten. Makam Si Kabayan biasanya di bawah naungan pohon limus. Banyaknya makam Si Kabayan, "Karena Kabayan meninggal dengan lebih dari satu sebab" (hal. 35).
Selain itu, Snouck membandingkan Si Kabayan dengan tokoh lucu dari Eropa, Uilespiegel. Snouck menilai beberapa cerita Si Kabayan ada yang sama menariknya dengan Uilespiegel. Namun ada juga, dongeng Si Kabayan yang lebih interesan dari Uilespiegel, "Karena berisi contoh-contoh tentang kelakar rakyat yang kasar, yang banyak di antaranya terlalu kotor menurut pandangan Eropa untuk diterjemahkan (hal. 16).
Mungkin itu sebabnya, dalam disertasi Wijsman, ada dua dongeng Si Kabayan yang tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, melainkan ke dalam bahasa Latin, yakni dongeng no. 63 dan 103, yang berisi sisi-sisi seksualitas Si Kabayan.
Snouck pun menggambarkan sifat Si Kabayan lebih "gila" dari Uilespiegel. Uilespiegel yang berprofesi sebagai kusir kereta kuda hanya sampai meminyaki seluruh kereta kuda tuannya, tetapi "Kabayan selalu menangkap kata-kata pembimbing dan penasihatnya secara keliru, dan menyebabkan cara dia melaksanakan perintah mereka selalu bikin ngeri, heran, atau merugi." Akibatnya, Si Kabayan sering mengalami kesulitan besar, meski anehnya selalu dapat meloloskan diri.
Pada akhirnya, mungkin kita patut bertanya-tanya, benarkah Snouck yang pertama kali mengumpulkan dongeng-dongeng Si Kabayan? Tidakkah justru Haji Hasan Mustapa yang mengumpulkannya? Atau ada orang lain yang mengirimkan naskahnya ke negeri Belanda, seperti halnya R. Abubakar Djajadiningrat yang memberi informasi seputar kehidupan di Mekah, namun tidak dicatat setitik pun oleh Snouck dalam Het Mekkaansche Feest (1880). Mari kita teliti!
___________________
Artikel ini didownload dari http://newspaper.pikiran-rakyat.com/, pada tanggal 9 Juli 2009.
Atep Kurnia adalah penulis lepas, bergiat pada sawala bulanan Pusat Studi Sunda (PSS) dan Komunitas Bakatul Bandung.
Kredit foto: http://lemburkuring08.blogspot.com/